Rumah Itu
Rumah
besar itu menutup senja yang indah dari kamarku.
Bangunannya putih, tinggi menjulang
empat lantai, menutupi bulatan orange kemilau
yang terkadang dihiasi kombinasi warna ungu dan merah muda yang dulu sering
kulihat dari kamarku.Sekarang kelam, sore dikamarku remang-remang.
Walaupun aku menghidupkan lampu yang terang, tentu cahaya yang terpancar
tidak bisa indah dan menenangkan seperti itu.
Padahal satu tahun ini aku banyak
sekali menghabiskan waktu di sana sendirian dan tidak ingin bertemu
siapa-siapa. Senja yang hilang itu, bagiku juga pertanda bahwa aku telah
melewati masa kanak-kanak dan remaja yang ceria dan penuh warna. Diganti dengan
bayangan masa tua (dewasa), bayangan yang penuh ketidakpastian yang juga harus
ditempuh sendirian.
Setelah kupikirkan kembali,
bagaimana aku bisa melihat cahaya-cahaya indah itu (lagi) disetiap sore, aku
harus meninggikan rumahku, membuatnya menjadi tiga sampai empat lantai, agar
aku bisa melihatnya (senja) dengan indah di balkon.
Pilihan lain aku harus membuat rumah
baru, jauh dari gedung-gedung tinggi
yang dikelilingi ilalang serta
dikelilingi hamparan persawahan. Ya.... rumah baru, dimana aku bisa melihat
senja itu, melihat pohon besar yang terlihat kecil dimataku, melihat padi dan ilalalang
yang indah tersapu semilir angin. Lalu
setelah mendapat itu, aku akan abadikan dalam foto dan video kemudian mengeditnya menjadi
semakin indah jika dilihat di telepon genggamku, setelah
selesai akan ku nikmati SENDIRI.
puisiku...
Komentar
Posting Komentar